NIM 1401418216
Presensi 8
Konsep, Karakteristik, Tujuan, Manfaat dan Komponen E-Learning
Konsep E-learning
1. Pengertian dasar e-learning
Proses pembelajaran tradisional berlangsung dalam suatu kelas dan
ditandai dengan hadirnya seorang pendidik yang mengendalikan pembelajaran.
Hal ini yang membuat paradigma pembelajaran berpusat pada guru(teacher
centred learning). Paradigma ini mulai bergeser dengan munculnya paradigma
baru yang menjadikan peserta didik sebagai active learner, peserta didik sebagai
pusat pembelajaran (student centred learning). Student centred learningmengacu
pada kesempatan belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, artinya
kebutuhan belajar tersebut datang dari peserta didik.
Student centred learning, pembelajaran berfokus pada aktifitas belajar
dan bukan aktifitas mengajar. Maka keberadaan guru bukan satu-satunya faktor
penentu keberhasilan proses pembelajaran, melainkan dapat digantikan dengan
bahan belajar, media belajar, serta terciptanya komunikasi antar pembelajar.
Pemunuhan kebutuhan peserta didik yang beragam saat ini terdukung dengan
keberadaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Dengan TIK bahan belajar
dapat dibuat menjadi lebih menarik, melibatkan banyak jenis media, interaktif,
dan mudah didistribusi kepada peserta didik tanpa batasan ruang dan waktu.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah rendahnya
kualitas pendidikan yang dapat dilihat dari proses pendidikan yang sedang
berjalan maupun produk hasil pendidikan. Hasil laporan Bank Dunia tentang hasil
tes membaca anak SD sangat memprihatinkan, dalam bidang matematika
Indonesia menduduki peringkat ke 32 dari 38 negara. Sedangkan dari segi proses
pendidikan khususnya pembelajaran sebagian besar guru lebih cenderung
menanamkan materi pelajaran yang bertumpu pada aspek kognitif rendah. Proses
belajar mengajar merupakan jantungnya pendidikan yang harus diperhitungkan,
karena terdapat transformasi berbagai konsep, nilai serta materi pendidikan
diintegrasikan.
Dikaitkankan dengan tuntutan masa depan mengubah sistem
pembelajaran konvensional dengan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan
efisien, dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi melalui jaringan
internet. Penggunaan internet untuk proses pembelajaran sudah
diimplementasikan dengan penerapan e-learninguntuk penyebaran informasi dan
berkomunikasi. Istilah e-learningdapat pula didefinisikan sebagai sebuah
teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia
maya. Dalam teknologi e-learning, proses pembelajaran yang biasa didapatkan di
dalam sebuah kelas di lakukan secara live namun virtual.
E-learning sering pula disebut pembelajaran onlineatau online course.
Pembelajaran online dalam pelaksanaannya memanfaatkan dukungan jasa
teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer,
telepon, audio, video, transmisi satelit, dan sebagainya. E-learning sangat
berkembang karena relatif tidak memerlukan biaya tinggi namun memiliki
jangkauan yang luas, sebab e-learning dapat menjangkau hingga keseluruh dunia
tanpa dibatasi oleh kondisi geografis, sehingga lebih mudah untuk menyampaikan
informasi pembelajaran.
Menurut Widhiarta (2008), keberadaan TIK memunculkan model
pembelajaran baru antara lain:
a. Computer Based Learning/Training (CBL/CBT)
Dalam CBL/CBT pembelajaran berlangsung dengan cara penyediaan bahan
belajar berupa model elektronik, software edukasi, maupun bentuk softcopy dari
makalah yang sudah ada. Bahan belajar juga bisa berupa program simulasi
keterampilan tertentu sesuai kebutuhan khusus pembelajaran.
b. Web Based Learning/Web Based Training
Perkembangan Internet memungkinkan model belajar CBL/CBT yang terintegrasi
dalam jaringan komputer sehingga terjadi perluasan akses bahan belajar kapanpun
dan dimanapun. Aktivitas kelas terjadi dengan cara peserta mengunduh dan
mempelajari bahan belajar, mengikuti diskusi dengan pengajar menggunakan
teknologi komunikasi yang tersedia (chat, email, video converence)
c. Mobile Learning
Model pembelajaran yang memanfaatkan keberadaan ponsel cerdas yang pervasif
dan merupakan bagian dari kultur populer masyarakat sebagai sarana
pembelajaran. Fitur dan kelengkapan teknologi telepon genggam saat ini sangat
mendukung keberhasilan konsep mobile learning.
Ketiga bentuk pembelajaran diatas disebut pembelajaran secara elektronik, atau
sering disebut e-learning. Namun masih ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai
makna dan hubungan istilah e-learning, flexibel learning, dan online learning. Salah
satu definisi dikeluarkan oleh The American Society for Training and Development
(ASTD, 2009, dalam Suhaemy, 2014) yang menyebutkan bahwa e-learning adalah
himpunan aplikasi dan proses yang meliputi pembelajaran berbasis web (web based
learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), dan kelas virtual
(virtual classroom). Sebagian dari model ini dilakukan dengan Internet, Intranet, audio,
video, tv interaktif, dan CD room.
Definisi tersebut, jelas bahwa konteks e-learning lebih luas dari pada online
learning, karena e-learning meliputi pemanfaatan perangkat elektronik yang tidak harus
terkoneksi secara online. Sementara flexible learning memberikan pilihan yang lebih
luas pada apa, kapan, dimana, dan bagaimana kita belajar. Artinya Flexible
learninglebih mengarah pada pendekatan bahwa teknologi memungkinkan semua
pembelajaran lebih flexibel. Sedangkan online learning mencakup pembelajaran yang
dilaksanakan dengan teknologi berbasis web.
Melalui e-learning materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana
saja, disamping itu materi juga dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar serta
dapat diperbaharui dengan cepat. E-learningmembawa prinsip terciptanya lingkungan
belajar yang fleksibel dan terdistribusi.
Karakteristik E-Learning
Terdapat beberapa karakteristik yang harus dimiliki e-learning yang
membedakannya dengan pembelajaran konvensional, yaitu interactivity, independency,
accessibility, dan enrichment.
a. Interactivity
e-learning harus memfasilitasi jalur komunikasi baik secara real time(synchronus)
seperti chatting dan messenger, maupun tidak real time (asynchronous) seperti
forum dan mailing list.
b. Independency/kemandirian
Ketersediaan bahan belajar, waktu, dan akses yang flexibel memungkinkan
peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan kondisi
masing-masing dan menjadi active learner. Namun hal ini tidak akan berjalan
baik jika masing-masing individu tidak memiliki kemandirian. Kemandirian disini
berarti peserta didik belajar tanpa ada yang menyuruh atau mengingatkan,
mengerjakan tugas tanpa ada yang mengejar-ngejar dan lain-lain. Semua
berdasarkan kesadaran sendiri. Jadwal, pengaturan waktu dan reminder, bahkan
saran acuan belajar yang ada hanya berupa mesin belaka, yang tidak akan berarti
apapun jika peserta didik tidak menyadarinya secara mandiri.
c. Accessibillity/aksesabilitas
Sumber-sumber belajar dan informasi akademik harus lebih mudah diakses dan
terdistribusi lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
d. Enrichment/pengayaan
Kegiatan pembelajaran serta presentasi bahan pembelajaran disajikan dengan cara
yang lebih variatif dan interaktif seperti penggunaan video striming, aplikasi
simulasi, dan animasi.
Menurut Clark dan Mayer (2008) yang termuat dalam makalah Effective ELearning
Design (Steen H, 2008), e-learning adalah intruksi yang diantarkan melalui
sistem komputer dengan tujuan membangun keterampilan dan kemampuan yang dapat
ditransfer (transferable). E-learning yang efektif selayaknya memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1) Meliputi konten yang relevan dengan fitur pembelajaran
2) Menggunakan metode instruksi seperti contoh dan praktek untuk membantu
pembelajaran
3) Memanfaatkan berbagai elemen media untuk menyampaikan konten dan metode
4) Membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat meningkatkan
perfoma
Menurut Munir (2008) karakteristik e-learning antara lain:
1) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik sehingga dapat memperoleh informasi
dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat, baik antara pengajar dengan
pembelajar, atau pembelajar dengan pembelajar.
2) Memanfaatkan media komputer, seperti jaringan komputer (computer networkatau
digital media)
3) Menggunakan materi pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri (self learning
material)
4) Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer sehingga diakses oleh pengajar
dan pembelajar, atau siapapun tidak terbatas waktu dan tempat kapan saja dan
diamana saja sesuai dengan keperluannya
5) Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga untuk mengetahui
hasil kemajuan belajar, atau administrasi pendidikan, serta untuk memperoleh
informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.
membedakannya dengan pembelajaran konvensional, yaitu interactivity, independency,
accessibility, dan enrichment.
a. Interactivity
e-learning harus memfasilitasi jalur komunikasi baik secara real time(synchronus)
seperti chatting dan messenger, maupun tidak real time (asynchronous) seperti
forum dan mailing list.
b. Independency/kemandirian
Ketersediaan bahan belajar, waktu, dan akses yang flexibel memungkinkan
peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan kondisi
masing-masing dan menjadi active learner. Namun hal ini tidak akan berjalan
baik jika masing-masing individu tidak memiliki kemandirian. Kemandirian disini
berarti peserta didik belajar tanpa ada yang menyuruh atau mengingatkan,
mengerjakan tugas tanpa ada yang mengejar-ngejar dan lain-lain. Semua
berdasarkan kesadaran sendiri. Jadwal, pengaturan waktu dan reminder, bahkan
saran acuan belajar yang ada hanya berupa mesin belaka, yang tidak akan berarti
apapun jika peserta didik tidak menyadarinya secara mandiri.
c. Accessibillity/aksesabilitas
Sumber-sumber belajar dan informasi akademik harus lebih mudah diakses dan
terdistribusi lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
d. Enrichment/pengayaan
Kegiatan pembelajaran serta presentasi bahan pembelajaran disajikan dengan cara
yang lebih variatif dan interaktif seperti penggunaan video striming, aplikasi
simulasi, dan animasi.
Menurut Clark dan Mayer (2008) yang termuat dalam makalah Effective ELearning
Design (Steen H, 2008), e-learning adalah intruksi yang diantarkan melalui
sistem komputer dengan tujuan membangun keterampilan dan kemampuan yang dapat
ditransfer (transferable). E-learning yang efektif selayaknya memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1) Meliputi konten yang relevan dengan fitur pembelajaran
2) Menggunakan metode instruksi seperti contoh dan praktek untuk membantu
pembelajaran
3) Memanfaatkan berbagai elemen media untuk menyampaikan konten dan metode
4) Membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat meningkatkan
perfoma
Menurut Munir (2008) karakteristik e-learning antara lain:
1) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik sehingga dapat memperoleh informasi
dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat, baik antara pengajar dengan
pembelajar, atau pembelajar dengan pembelajar.
2) Memanfaatkan media komputer, seperti jaringan komputer (computer networkatau
digital media)
3) Menggunakan materi pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri (self learning
material)
4) Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer sehingga diakses oleh pengajar
dan pembelajar, atau siapapun tidak terbatas waktu dan tempat kapan saja dan
diamana saja sesuai dengan keperluannya
5) Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga untuk mengetahui
hasil kemajuan belajar, atau administrasi pendidikan, serta untuk memperoleh
informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.
Tujuan E-Learning
Tujuan e-learning adalah untuk meningkatkan
daya serap dari para mahasiswa atas materi yang diajarkan, meningkatkan
partisipasi aktif dari para mahasiswa, meningkatkan kemampuan belajar
mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat
merangsang pertumbuhan inovasi baru para mahasiswa sesuai dengan bidangnya
masing-masing. e-learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru
untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan
berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik
hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan
wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telefon, dan
satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-learning yang menggunakan fasilitas
internet adalah distance learning, merupakan suatu proses pembelajaran, dimana
dosen dan mahasiswa tidak ada dalam satu ruangan kelas secara langsung pada
waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dari jarak
jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini memungkinkan terjadinya
pembelajaran yang berkesinambungan, artinya mahasiswa bisa belajar setiap saat,
balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu perternuan. Berbagai peluang
tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi tantangan baik dari kesiapan
iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung
terhadap kelangsungan e-learning. Dikemukakan juga sepintas mengenai peluang
dan tangangan media e-learning, seperti pada media voice mail, audiotape,
audioconference, e-mail, online chat, web based education, videotape, satellite
videoconference, microwave videoconference, dan cable atau broadcast
television.
Manfaat E-Learning
Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa Internet. Internet menjadi suatu
kebutuhan, karena berbagai informasi di dalamnya dapat diakses secara mudah, kapan
saja, dan dimana saja. Pembelajaran dengan menggunakan jasa Internetakan
mempengaruhi tugas pengajar dalam proses pembelajaran dan cara belajar dari
pembelajar itu sendiri. Proses pembelajaran tidak lagi didominasi oleh pengajar,
melainkan dilengkapi oleh teknologi yang berkembang dengan pesar setiap saat seperti
komputer. Pelengkap lainnya seperti modul atau buku.
Mannfaat e-learning dnegan penggunaan internet, khususnya dalam pembelajaran jarak
jauh, antara lain:
1) Pengajar dan pembelajara dapat berkomunikasi secara cepat dan mudah melalui
fasilitas internettanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
2) Pengajar dan pembelajar dapat menggunakann materi pembelajaran yang ruang
lingkup (scope) dan urutan (sekuensnya) sudah sistematis terjadwal melalui
internet, sehingga bagi pengajar bisa menilai seberapa jauh materi pembelajaran
tersebut disajikan, dan bagi pembelajar dapat menilai seberapa jauh materi
pembelajar dapat dipelajari dan dikuasainya.
3) Dengan E-learningdapat menjelaskan materi pembelajaran yang sulit dan rumit
menjadi mudah dan sederhana.
4) Mempermudah dan mempercepat mengakses atau memperoleh banyak informasi
yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang dipelajarinya dari berbagai
sumber informasi dnegan melakukan akses di internet.
5) Internet dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan diskusi antara pengajar
dengan pembelajar, baik untuk seorang pembelajar, atau dalam jumlah pembelajar
terbatas, bahkan massal.
6) Peran pembelajar menjadi lebih aktif mempelajari materi pembelajaran,
memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi secara mandiri tidak mengandalkan
pemberian dari pengajar, disesuaikan pula dengan keinginan dan minatnya
terhadap materi pembelajaran.
7) Relatif lebih efisien dari segi tempat, waktu, dan biaya.
8) Bagi pembelajar yang sudah bekerja dan sibuk dengan kegiatannya, sehingga
tidak memiliki waktu untuk datang ke suatu lembaga pendidikan, maka dapat
mengakses internet kapanpun sesuai dengan waktu luangnya.
9) Dari segi biaya, penyediaan layanan internet lebih kecil biayanya dibanding harus
membangun ruangan atau kelas pada lembaga pendidikan sekaligus
memeliharanya, serta menggaji para pegawainya.
10) Memberikan pengalaman bermakna bagi pembelajar karena dapat berinteraksi
langsung, sehingga pemahaman terhadap materi pembelajaran akan lebih
bermakna pula (meaningfull), mudah dipahami, diingat, dan mudah pula untuk
diungkapkan kembali.
11) Kerjasama dalam komunitas onlineyang memudahkan dalam transfer informasi
dan melakukan suatu komunikasi, sehingga tidak akan kekurangan sumber atau
materi pembelajaran.
12) Administrasi dan pengurusan yang terpusat sehingga memudahkan dalam
melakukan akses atau dalam operasionalnya.
13) Membuat pusat perhatian dalam pembelajaran.
Komponen E-Learning
Untuk dapat terselenggaranya e-learning diperlukan 3 komponen pembentuk e-learning
yaitu:
a. Infrastruktur: Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC),
jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya
peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning
melalui teleconference.
b. Sistem dan aplikasi: sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar
mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau
konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), manajemen proses belajar mengajar.
Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management Sistem
(LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah
dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas.
c. Koten: konten dan bahan ajar yang pada e-Learning system (Learning Management
System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content
(konten berbentuk multimedia) atau Text-based Content (konten berbentuk teks
seperti pada buku pelajaran biasa). Konten ini disimpan dalam Learning
Management System (LMS) Sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan
dimanapun.
Konten ini sangat penting karena tanpa adanya konten tidak ada materi yang
dapat disampaikan ke pengguna. Konten berbentuk multimedia adalah suatu sarana
yang di dalamnya terdapat perpaduan (kombinasi) berbagai bentuk elemen informasi,
seperti teks, grafik, animasi, video, interaktif maupun suara sebagai pendukung untuk
mencapai tujuannya yaitu menyampaikan informasi atau sekedar memberikan hiburan
bagi target audiens-nya. Kata multimedia itu sendiri berasal dari kata multi (bahasa
latin) yang berarti banyak dan kata media berasal dari bahasa inggris (medium: bentuk
tunggalnya) diturunkan dari bahasa Latin yang membawa informasi dari suatu sumber
informasi ke penerima (Smaldino dkk, 2005).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar