Selasa, 24 Maret 2020

Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget



Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget




       A.    Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang yang merumuskan teori yang dapat menjelaskan fase-fase perkembangan kognitif. Teori ini dibangun berdasrkan sudut pandang yang disebut sudut pandang aliran structural (structuralism) dan aliran konstructive (constructivism)
Aliran structural yang mewarnai teori Piaget dapat dilihat pandanganya tentang intelegensi yang berkembang melalui serangkaian tahap perkembangan yang ditandai oleh perkembangan kualitas struktur kognitif. Aliran konstruktif terlihat dari pandangan Piaget yang menyatakan bahwa, anak membangun kemampuan kognitif melalui interaksi dengan dunia di sekitarnya.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu;
1.      Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf.
2.      Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya.
3.      interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
4.      ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.  Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya.  Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif didalam struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif.  Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.

B.     Tahap-tahap Perkembangan Kognitif menurut Piaget
           Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama serta berkembang semakin canggih seiring pertambahan usia. 4 periode utama tersebut meliputi: periode sensorimotor (usia 0-2 tahun), periode praoprasional (usia 2-7 tahun), periode oprasional konkrit (usia 7-11 tahun), periode operasional formal (11 tahunsampai dewasa).

1.      Periode Sensorimotor (Usia 0–2 Tahun)
     Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Bayi memberikan reaksi motorik atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks misalnya refleks menangis, dan lain-lain. Refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan (Sunarto, 2008:24)
2.      Periode Praoperasional (Usia 2–7 Tahun)
Pada tahap ini, anak mulai meningkatkan kosa kata, membuat penilaian, berdasarkan persepsi bukan pertimbangan konseptual, mengelompokan benda benda berdasarkan sifat, mulai memiliki pengeetahuan fisik mengenai sifat sifat benda dan mulai memahami tingkah laku dan oerganisme di dalam lingkungannya, tidak berpikir balik (secara reversible), tidak berpikir bagian bagian dan keseluruhan secara serentak, mempunyai pandangan subyektif dan egosentrik.

3.      Periode Operasional Konkrit (usia 7–11 tahun)
Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.

4.      Periode Operasional Formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Selain itu pada tahap ini individu dapat berpikir secara abstrak, menangani situasi-situasi perumpamaan dan berpikir mengenai berbagai kemungkinan (dalam Human Development, Papalia, Old, Feldman, 2009 ; 46).  Sehingga ketika masa ini individu sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoretis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu.
Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia tela  h memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep persepsi.





Daftar Pustaka
Nirmala, Indah. Perkembangan Kognitif Piaget, (online), http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-implementasinya-dalam-pendidikan-346946.html 01 Maret 2013 9:04:06

Program pensiswazanaguru sekolah rendah (PGSR)2008. Perkembangan Kognitif Kanak-Kanak.Malaysia.Sektor Pembangunan ProfesionalismeKeguruan Kementerian Malaysia

Nafisah, Vivi. 2014. Perkembangan Kognitif Anak oleh Psikolog Ana Surti Arianai. (online). (http://anakjempolan.wordpress.com/2014/02/06/perkembangan-kognitif-anak-oleh-psikolog-anna-surti-nina/) diakses 19 Oktober 2014

Suparno, Paul.2001. Teori Perkembangan Kognitif.Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Teori piaget mengenai perkembangan kognitif (dalam Srini M. iskandar,1996/1997,hlm. 26)

Kamis, 19 Maret 2020

TUGAS E-LEARNING Konsep, Karakteristik, Tujuan, Manfaat dan Komponen E-Learning.

Naufal Fayrianto
NIM 1401418216
Presensi 8


Konsep, Karakteristik, Tujuan, Manfaat dan Komponen E-Learning

Konsep E-learning

1. Pengertian dasar e-learning 
Proses pembelajaran tradisional berlangsung dalam suatu kelas dan ditandai dengan hadirnya seorang pendidik yang mengendalikan pembelajaran. Hal ini yang membuat paradigma pembelajaran berpusat pada guru(teacher centred learning). Paradigma ini mulai bergeser dengan munculnya paradigma baru yang menjadikan peserta didik sebagai active learner, peserta didik sebagai pusat pembelajaran (student centred learning). Student centred learningmengacu pada kesempatan belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, artinya kebutuhan belajar tersebut datang dari peserta didik. Student centred learning, pembelajaran berfokus pada aktifitas belajar dan bukan aktifitas mengajar. Maka keberadaan guru bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran, melainkan dapat digantikan dengan bahan belajar, media belajar, serta terciptanya komunikasi antar pembelajar. Pemunuhan kebutuhan peserta didik yang beragam saat ini terdukung dengan keberadaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Dengan TIK bahan belajar dapat dibuat menjadi lebih menarik, melibatkan banyak jenis media, interaktif, dan mudah didistribusi kepada peserta didik tanpa batasan ruang dan waktu. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah rendahnya kualitas pendidikan yang dapat dilihat dari proses pendidikan yang sedang berjalan maupun produk hasil pendidikan. Hasil laporan Bank Dunia tentang hasil tes membaca anak SD sangat memprihatinkan, dalam bidang matematika Indonesia menduduki peringkat ke 32 dari 38 negara. Sedangkan dari segi proses pendidikan khususnya pembelajaran sebagian besar guru lebih cenderung menanamkan materi pelajaran yang bertumpu pada aspek kognitif rendah. Proses belajar mengajar merupakan jantungnya pendidikan yang harus diperhitungkan, karena terdapat transformasi berbagai konsep, nilai serta materi pendidikan diintegrasikan. Dikaitkankan dengan tuntutan masa depan mengubah sistem pembelajaran konvensional dengan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi melalui jaringan internet. Penggunaan internet untuk proses pembelajaran sudah diimplementasikan dengan penerapan e-learninguntuk penyebaran informasi dan berkomunikasi. Istilah e-learningdapat pula didefinisikan sebagai sebuah teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Dalam teknologi e-learning, proses pembelajaran yang biasa didapatkan di dalam sebuah kelas di lakukan secara live namun virtual. E-learning sering pula disebut pembelajaran onlineatau online course. Pembelajaran online dalam pelaksanaannya memanfaatkan dukungan jasa teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer, telepon, audio, video, transmisi satelit, dan sebagainya. E-learning sangat berkembang karena relatif tidak memerlukan biaya tinggi namun memiliki jangkauan yang luas, sebab e-learning dapat menjangkau hingga keseluruh dunia tanpa dibatasi oleh kondisi geografis, sehingga lebih mudah untuk menyampaikan informasi pembelajaran.
 Menurut Widhiarta (2008), keberadaan TIK memunculkan model pembelajaran baru antara lain: 
 a. Computer Based Learning/Training (CBL/CBT) Dalam CBL/CBT pembelajaran berlangsung dengan cara penyediaan bahan belajar berupa model elektronik, software edukasi, maupun bentuk softcopy dari makalah yang sudah ada. Bahan belajar juga bisa berupa program simulasi keterampilan tertentu sesuai kebutuhan khusus pembelajaran.
b. Web Based Learning/Web Based Training Perkembangan Internet memungkinkan model belajar CBL/CBT yang terintegrasi dalam jaringan komputer sehingga terjadi perluasan akses bahan belajar kapanpun dan dimanapun. Aktivitas kelas terjadi dengan cara peserta mengunduh dan mempelajari bahan belajar, mengikuti diskusi dengan pengajar menggunakan teknologi komunikasi yang tersedia (chat, email, video converence) 
c. Mobile Learning Model pembelajaran yang memanfaatkan keberadaan ponsel cerdas yang pervasif dan merupakan bagian dari kultur populer masyarakat sebagai sarana pembelajaran. Fitur dan kelengkapan teknologi telepon genggam saat ini sangat mendukung keberhasilan konsep mobile learning. Ketiga bentuk pembelajaran diatas disebut pembelajaran secara elektronik, atau sering disebut e-learning. Namun masih ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai makna dan hubungan istilah e-learning, flexibel learning, dan online learning. Salah satu definisi dikeluarkan oleh The American Society for Training and Development (ASTD, 2009, dalam Suhaemy, 2014) yang menyebutkan bahwa e-learning adalah himpunan aplikasi dan proses yang meliputi pembelajaran berbasis web (web based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), dan kelas virtual (virtual classroom). Sebagian dari model ini dilakukan dengan Internet, Intranet, audio, video, tv interaktif, dan CD room. Definisi tersebut, jelas bahwa konteks e-learning lebih luas dari pada online learning, karena e-learning meliputi pemanfaatan perangkat elektronik yang tidak harus terkoneksi secara online. Sementara flexible learning memberikan pilihan yang lebih luas pada apa, kapan, dimana, dan bagaimana kita belajar. Artinya Flexible learninglebih mengarah pada pendekatan bahwa teknologi memungkinkan semua pembelajaran lebih flexibel. Sedangkan online learning mencakup pembelajaran yang dilaksanakan dengan teknologi berbasis web. Melalui e-learning materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, disamping itu materi juga dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar serta dapat diperbaharui dengan cepat. E-learningmembawa prinsip terciptanya lingkungan belajar yang fleksibel dan terdistribusi. 

Karakteristik E-Learning

Terdapat beberapa karakteristik yang harus dimiliki e-learning yang
membedakannya dengan pembelajaran konvensional, yaitu interactivity, independency,
accessibility, dan enrichment.
a. Interactivity
e-learning harus memfasilitasi jalur komunikasi baik secara real time(synchronus)
seperti chatting dan messenger, maupun tidak real time (asynchronous) seperti
forum dan mailing list.
b. Independency/kemandirian
Ketersediaan bahan belajar, waktu, dan akses yang flexibel memungkinkan
peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan kondisi
masing-masing dan menjadi active learner. Namun hal ini tidak akan berjalan
baik jika masing-masing individu tidak memiliki kemandirian. Kemandirian disini
berarti peserta didik belajar tanpa ada yang menyuruh atau mengingatkan,
mengerjakan tugas tanpa ada yang mengejar-ngejar dan lain-lain. Semua
berdasarkan kesadaran sendiri. Jadwal, pengaturan waktu dan reminder, bahkan
saran acuan belajar yang ada hanya berupa mesin belaka, yang tidak akan berarti
apapun jika peserta didik tidak menyadarinya secara mandiri.
c. Accessibillity/aksesabilitas
Sumber-sumber belajar dan informasi akademik harus lebih mudah diakses dan
terdistribusi lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
d. Enrichment/pengayaan
Kegiatan pembelajaran serta presentasi bahan pembelajaran disajikan dengan cara
yang lebih variatif dan interaktif seperti penggunaan video striming, aplikasi
simulasi, dan animasi.
Menurut Clark dan Mayer (2008) yang termuat dalam makalah Effective ELearning
Design (Steen H, 2008), e-learning adalah intruksi yang diantarkan melalui
sistem komputer dengan tujuan membangun keterampilan dan kemampuan yang dapat
ditransfer (transferable). E-learning yang efektif selayaknya memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1) Meliputi konten yang relevan dengan fitur pembelajaran
2) Menggunakan metode instruksi seperti contoh dan praktek untuk membantu
pembelajaran
3) Memanfaatkan berbagai elemen media untuk menyampaikan konten dan metode
4) Membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat meningkatkan
perfoma
Menurut Munir (2008) karakteristik e-learning antara lain:
1) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik sehingga dapat memperoleh informasi
dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat, baik antara pengajar dengan
pembelajar, atau pembelajar dengan pembelajar.
2) Memanfaatkan media komputer, seperti jaringan komputer (computer networkatau
digital media)
3) Menggunakan materi pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri (self learning
material)
4) Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer sehingga diakses oleh pengajar
dan pembelajar, atau siapapun tidak terbatas waktu dan tempat kapan saja dan
diamana saja sesuai dengan keperluannya
5) Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga untuk mengetahui
hasil kemajuan belajar, atau administrasi pendidikan, serta untuk memperoleh
informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.

Tujuan E-Learning


Tujuan e-learning adalah untuk meningkatkan daya serap dari para mahasiswa atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi aktif dari para mahasiswa, meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat merangsang pertumbuhan inovasi baru para mahasiswa sesuai dengan bidangnya masing-masing. e-learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telefon, dan satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-learning yang menggunakan fasilitas internet adalah distance learning, merupakan suatu proses pembelajaran, dimana dosen dan mahasiswa tidak ada dalam satu ruangan kelas secara langsung pada waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dari jarak jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini memungkinkan terjadinya pembelajaran yang berkesinambungan, artinya mahasiswa bisa belajar setiap saat, balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu perternuan. Berbagai peluang tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi tantangan baik dari kesiapan iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung terhadap kelangsungan e-learning. Dikemukakan juga sepintas mengenai peluang dan tangangan media e-learning, seperti pada media voice mail, audiotape, audioconference, e-mail, online chat, web based education, videotape, satellite videoconference, microwave videoconference, dan cable atau broadcast television.


Manfaat E-Learning

Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa Internet. Internet menjadi suatu
kebutuhan, karena berbagai informasi di dalamnya dapat diakses secara mudah, kapan
saja, dan dimana saja. Pembelajaran dengan menggunakan jasa Internetakan
mempengaruhi tugas pengajar dalam proses pembelajaran dan cara belajar dari
pembelajar itu sendiri. Proses pembelajaran tidak lagi didominasi oleh pengajar,
melainkan dilengkapi oleh teknologi yang berkembang dengan pesar setiap saat seperti
komputer. Pelengkap lainnya seperti modul atau buku.
Mannfaat e-learning dnegan penggunaan internet, khususnya dalam pembelajaran jarak
jauh, antara lain:
1) Pengajar dan pembelajara dapat berkomunikasi secara cepat dan mudah melalui
fasilitas internettanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
2) Pengajar dan pembelajar dapat menggunakann materi pembelajaran yang ruang
lingkup (scope) dan urutan (sekuensnya) sudah sistematis terjadwal melalui
internet, sehingga bagi pengajar bisa menilai seberapa jauh materi pembelajaran
tersebut disajikan, dan bagi pembelajar dapat menilai seberapa jauh materi
pembelajar dapat dipelajari dan dikuasainya.
3) Dengan E-learningdapat menjelaskan materi pembelajaran yang sulit dan rumit
menjadi mudah dan sederhana.
4) Mempermudah dan mempercepat mengakses atau memperoleh banyak informasi
yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang dipelajarinya dari berbagai
sumber informasi dnegan melakukan akses di internet.
5) Internet dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan diskusi antara pengajar
dengan pembelajar, baik untuk seorang pembelajar, atau dalam jumlah pembelajar
terbatas, bahkan massal.
6) Peran pembelajar menjadi lebih aktif mempelajari materi pembelajaran,
memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi secara mandiri tidak mengandalkan
pemberian dari pengajar, disesuaikan pula dengan keinginan dan minatnya
terhadap materi pembelajaran.
7) Relatif lebih efisien dari segi tempat, waktu, dan biaya.
8) Bagi pembelajar yang sudah bekerja dan sibuk dengan kegiatannya, sehingga
tidak memiliki waktu untuk datang ke suatu lembaga pendidikan, maka dapat
mengakses internet kapanpun sesuai dengan waktu luangnya.
9) Dari segi biaya, penyediaan layanan internet lebih kecil biayanya dibanding harus
membangun ruangan atau kelas pada lembaga pendidikan sekaligus
memeliharanya, serta menggaji para pegawainya.
10) Memberikan pengalaman bermakna bagi pembelajar karena dapat berinteraksi
langsung, sehingga pemahaman terhadap materi pembelajaran akan lebih
bermakna pula (meaningfull), mudah dipahami, diingat, dan mudah pula untuk
diungkapkan kembali.
11) Kerjasama dalam komunitas onlineyang memudahkan dalam transfer informasi
dan melakukan suatu komunikasi, sehingga tidak akan kekurangan sumber atau
materi pembelajaran.
12) Administrasi dan pengurusan yang terpusat sehingga memudahkan dalam
melakukan akses atau dalam operasionalnya.
13) Membuat pusat perhatian dalam pembelajaran.

Komponen E-Learning

Untuk dapat terselenggaranya e-learning diperlukan 3 komponen pembentuk e-learning
yaitu:
a. Infrastruktur: Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC),
jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya
peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning
melalui teleconference.
b. Sistem dan aplikasi: sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar
mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau
konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), manajemen proses belajar mengajar.
Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management Sistem
(LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah
dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas.
c. Koten: konten dan bahan ajar yang pada e-Learning system (Learning Management
System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content
(konten berbentuk multimedia) atau Text-based Content (konten berbentuk teks
seperti pada buku pelajaran biasa). Konten ini disimpan dalam Learning
Management System (LMS) Sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan
dimanapun.
Konten ini sangat penting karena tanpa adanya konten tidak ada materi yang
dapat disampaikan ke pengguna. Konten berbentuk multimedia adalah suatu sarana
yang di dalamnya terdapat perpaduan (kombinasi) berbagai bentuk elemen informasi,
seperti teks, grafik, animasi, video, interaktif maupun suara sebagai pendukung untuk
mencapai tujuannya yaitu menyampaikan informasi atau sekedar memberikan hiburan
bagi target audiens-nya. Kata multimedia itu sendiri berasal dari kata multi (bahasa
latin) yang berarti banyak dan kata media berasal dari bahasa inggris (medium: bentuk
tunggalnya) diturunkan dari bahasa Latin yang membawa informasi dari suatu sumber
informasi ke penerima (Smaldino dkk, 2005).

Kamis, 12 Maret 2020

Chord dan Lirik Lagu Aku Pasti Bisa

Intro : Dm G Em A
        Dm G C C
        C
mentari terbenam
              Dm
temani dalam kesendirianku
                F
temani aku dalam kepedihan
G         C   C
ini ku bertahan

*

        C
mentari terbenam
                  Dm
beri semangat baru tuk jiwaku
                  F
beri kicauan merdu tuk hidupku
G          C    C
ini ku bertahan
Reff:
              Dm  G
  aku pasti bisa
              Em
  menikmati semua
                A
  dan menghadapinya
      Dm       G    C
  aku yakin pasti bisa
Int Dm G Em A
     Dm G C C
Kembali ke :
*,
Reff 2x

 Dm     G
aku ingin lepaskan
   Em        A
seluruh bebanku
        Dm
dan ku jalani hidupku
G          C
dengan senyuman
Reff:
             Dm G
  aku pasti bisa
             Em
  menikmati semua
                A
  dan menghadapinya
      Dm       G    C
  aku yakin pasti bisa
       Dm
dan ku jalani hidupku
G         C
dengan senyuman

E-LEARNING

KOMUNIKASI KELAS ONLINE (BLOG ATAU CHAT)      Komunikasi dalam jaringan ini bermula pada tahun 1960 yang mana diuji coba pada penilit...